Januari Laporan Pasar: Industri Daging Sapi Asia Tenggara

Edisi ke-50: Januari 2018

Poin Utama 

  • Harga di China terus menanjak sementara harga-harga lainnya masih tertahan di kisaran yang sempit

 

Indonesia: Harga sapi potong steer AUD $3,55/kg bobot hidup (Rp10.700 = AUD $1) 

Industri feedlot Indonesia terus merosot sampai pada titik di mana binsis mereka tak dapat lagi dipertahankan.  Harga indikator kembali turun di bulan ini menjadi Rp38.000 per kg bobot hidup untuk sapi potong steer.  Kisaran harga saat ini turun menjadi Rp37.000 per kg hingga Rp 40.000 untuk sapi dengan kondisi yag sangat baik, yang jumlahnya kecil.  Dan nilai tukar Dolar Australia khususnya ternyata sangat tidak membantu dengan kenaikan nilai tukar yang tetap tinggi selama bulan Januari.  Harga sapi di kawasan utara Australia masih stabil di musim hujan pertama ini, di mana harga sapi bakalan steer di NT bertahan stabil pada AUD $3,20 kg.

Persoalan utama Indonesia adalah pasokan daging kerbau India yang terus mengganggu pasar.  Pertama, daging kerbau India menguasai sekitar 50% pasar daging sapi segar dengan mengambil alih pasar daging bakso dan sektor bisnis makanan kelas bawah yang pelanggannya tidak bisa membedakan antara daging sapi segar dengan daging kerbau beku (dalam bentuk bakso), atau konsumen yang memang tidak peduli sebab harganya sangat murah.  Masakan Rendang dari sapi lokal biasanya dibuat dengan menggunakan daging sapi dan kerbau lokal yang sangat keras sehingga kerbau tua India tidak memberikan perbedaan rasa yang berarti.  Dampak signifikan yang kedua adalah, kini para pedagang grosir mengubah sumber pasokan daging mereka dengan bahan baku yang dapat dipasok dari India.  Protokol kesehatan mengenai ekspor dari negara-negara yang memiliki Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menuntut bahwa hanya daging tanpa tulang yang aman untuk diekspor.  Karena tidak ada tulang atau jeroan yang dapat diimpor dari India, produk-produk ini masih terus dipasok melalui kombinasi dari daging segar di pasar yang berasal dari sapi yang dipotong di dalam negeri dan produk beku yang diimpor.  Yang tampaknya terjadi sekarang adalah bahwa harga jeroan dan daging bertulang/bone-in (yang diimpor dari Australia dan NZ) menjadi jauh lebih menarik sehingga menaikkan tingkat impor produk ini melampaui pasar daging segar/jeroan/bone-in dalam negeri sehingga permintaan terhadap sapi potong hidup bahkan turun lebih rendah lagi.

Grafik di bawah ini yang diperoleh dari MLA menunjukkan adanya pengurangan impor yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir, dengan daging kerbau India yang mendorong penurunan menjadi lebih signifikan.  Yang tidak masuk akal adalah bahwa kita terus diberitahukan bahwa permintaan sapi potong (impor) berkurang sekitar 50%, namun penurunan impor selama 2017 yang terpengaruh oleh impor daging kerbau India, terlihat hanya turun sejumlah 16%.  Satu-satunya penjelasan yang dapat saya pikirkan adalah bahwa para importir sebenarnya terlalu optimis dalam proyeksi penjualannya dan terus mengimpor sapi dalam jumlah yang melampaui kemampuan penjualan mereka.  Hal ini akan menjelaskan pengamatan bahwa ada sejumlah besar sapi yang terlampau gemuk yang sering kali tertahan di feedlot sehingga terpaksa dijual dengan harga diskon demi mencegah kerugian lebih jauh.  Jika kasusnya benar seperti ini, maka para importir akan terus mengurangi jumlah impor mereka sampai akhirnya mencapai situasi input/output di feedlot yang lebih berkesinambungan.  Jika penurunan permintaan terhadap daging sapi segar disebabkan oleh kenaikan impor produk jeroan dan bone-in beku terus berlanjut, koreksi terhadap jumlah yang diimpor di masa depan akan cukup dramatis.

Laporan resmi dari pemerintah Indonesia menyatakan bahwa konsumsi daging kerbau India selama tahun 2017 adalah 36.000 ton.  Jika kita menggunakan bobot karkas bersih tanpa tulang dari sapi potong seberat 220 kg, maka 36 ribu ton tersebut berpotensi untuk menggantikan sekitar 160.000 ekor sapi potong hidup.  Tetapi jumlah sapi yang diimpor hanya berkurang sekitar 80.000 ekor untuk periode yang sama, sehingga mendukung dalil bahwa para importir belum cukup mengurangi impor untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran.  Dengan semakin banyaknya alternatif bone-in dan jeroan beku yang datang dari Australia, NZ dan USA, posisi para importir hanya akan terus terpuruk.

Para pengamat pasar yang berpengalaman memprediksi bahwa jumlah impor Indonesia untuk sapi pedaging pada tahun 2018 akan berada antara 200 dan 250.000 ekor.

Industri feedlot Indonesia sudah sejak lama terus bernegosiasi dengan pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan impor: 1 ekor sapi bibit untuk setiap 5 ekor sapi bakalan.  Harapan bahwa persyaratan ini akan berubah telah pupus di bulan Januari ketika pemerintah mengeluarkan surat resmi kepada semua importir bahwa kinerja mereka terkait dengan jumlah impor sapi bibit impor yang dipersyaratkan akan diaudit pada akhir tahun 2018.  Surat tersebut juga menyatakan bahwa denda jika mereka gagal memenuhi persayaratan yang ditargetkan adalah pembatalan izin impor selama 12 bulan. Mengingat bahwa tidak ada importir yang memiliki harapan untuk memenuhi persayaratan ini, tampaknya permintaan impor sapi hidup ke Indonesia mungkin akan turun menjadi nol di awal tahun 2019.

Sementara itu, Bali masih terus memikul dampak dari perjalanan udara yang tidak pasti yang disebabkan oleh letusan Gunung Agung.  Seorang sumber informasi lokal yang terpercaya di Bali memberitahukan bahwa Bali memiliki total 12.600 tempat tidur yang tersedia, dengan tingkat hunian saat ini hanya sekitar 15 sampai 20%.  Angka ini jauh lebih buruk daripada dampak yang dialami setelah insiden dua bom di Bali.  Penurunan penjualan daging sapi ini cukup erat tercermin dalam penurunan permintaan akomodasi tersebut.  Dan semuanya terkait dengan terganggunya jadwal penerbangan yang tidak dapat diprediksi, meskipun Gunung Agung sebenarnya sama sekali tidak berbahaya bagi para wisatawan.  Yang ada hanyalah potensi terhadap penundaan perjalanan.  Jadi saya anjurkan, manfaatkanlah diskon besar yang ditawarkan dan datanglah berlibur ke Bali. Anda tidak akan menyesal.

Foto dari internet oleh Yudi ‘Ol’, Gunung Agung dalam salah satu letusannya baru-baru ini.

 

Vietnam: Sapi potong steer AUD $3,70/kg (VND18.100 = AUD $1)

Harga sapi potong hidup masih sama dengan harga bulan lalu dengan pergerakan nilai tukar AUD yang terjadi semata-mata karena penguatan Dolar Australia.  Dong 67.000 masih menjadi indikator harga untuk sapi potong steer di Ho Chi Minh City.  Harga sapi jantan di bagian utara mencapai D72.000 sementara sapi dara yang gemuk didiskon sampai mencapai harga D61.000 per kg bobot hidup.

Impor sapi hidup dari Australia untuk tahun 2017 adalah 165.000 ekor dibandingkan dengan sekitar 190.000 ekor pada tahun 2016 dan hanya sedikit di bawah 400.000 pada tahun 2015.  Mengingat kondisi perdagangan yang sangat sulit saat ini, tampaknya hanya sedikit harapan akan peningkatan impor, kecuali jika ada perubahan signifikan pada harga yang dapat ditawarkan kepada konsumen.

Hari Raya Tet lunar yang dimulai pada 16 Februari akan menjadi satu-satunya titik cerah bagi para importir dan pedagang pada bulan Februari nanti.

Foto dari internet: perayaan Tahun Baru Tet lunar.

 

Thailand:  Sapi potong steer AUD $3,94/kg (Baht 25,4 = AUD $1)

Tidak ada perubahan yang signifikan di pasar kecuali bahwa nilai tukar Baht melemah terhadap AUD sehingga harga indikator 100 Baht per kg bobot hidup untuk sapi potong steer sekarang berubah menjadi AUD $3,94

 

Malaysia:  Sapi potong steer AUD $3,95 per/kg (RM3,15 = AUD $1)

Tidak ada yang dapat dilaporkan mengenai harga di Malaysia, kecuali bahwa ada perubahan kecil pada nilai tukar.  Agen saya di sana melaporkan bahwa banyak supermarket/hypermarket tidak lagi menjual daging segar lokal maupun impor karena permintaan yang sangat rendah.  Konsumen dalam negeri tampaknya sangat nyaman dengan membeli berbagai produk daging sapi beku impor yang sebagian besar dipasok Selandia Baru dan sejumlah kecil dari Australia.

 

Filipina: Sapi potong AUD $3,33/kg (Peso 40,5 = AUD $1)

Harga-harga masik kokoh bertahan di Filipina dengan pergerakan nilai tukar AUD yang terjadi semata karena fluktuasi nilai tukar.  Agen saya di sana terus melaporkan kondisi perekonomian yang kuat di seluruh Filipina meskipun terjadi hujan deras dan cuaca yang buruk. Dia juga melaporkan bahwa daging sapi impor dari Australia dan New Zealand mendadak menghilang dari pasar, sehingga yang tersedia di pasar trasdisional maupun swalayan hanyalah daging sapi lokal yang agak keras.

 

China: Sapi potong AUD $5,10/kg  (RMB 5,10 = AUD $1)

Harga sapi di Beijing dan Shanghai sekali lagi naik dari 25 menjadi 26 Yuan per kg bobot hidup, sehingga mendorong AUD naik di atas $5.  Hal ini menegaskan karakteristik penawaran dan permintaan pasar China yang sangat berbeda dengan semua pasar di Asia Tenggara lainnya, seperti yang selalu saya ikuti dalam Laporan Pasar ini.  Semua perdagangan sapi potong di pasar lainnya berada pada harga AUD yang relatif ketat yakni AUD$ 3,33─3,95 sementara sapi potong di China konsisten dijual pada kisaran 40% lebih.  Dan perbedaan ini tampaknya terus melebar.

Majalah “Asian Meat” yang diterbitkan oleh grup Asian Agribiz baru-baru ini mempublikasikan laporan konstruksi 2017 dengan pabrik-pabrik pengolahan daging sapi, yang sedang dibangun maupun direncanakan untuk:

  • Kapasitas 500.000 ekor per tahun di Ruili, di kawasan perbatasan dengan Myanmar di Barat Daya Provinsi Hunan.
  • 100.000 ekor per tahun di Provinsi Jiangsu – bagian utara Shanghai.
  • 100.000 ekor per tahun di Tongliao, Inner Mongolia.
  • 300.000 ekor per tahun di Zhucheng di Provinsi Shandong – selatan Beijing.
  • 200.000 ekor per tahun di Kailu, Inner Mongolia.

Sapi-sapi untuk Ruili akan dipasok dari Myanmar sementara sapi untuk kawasan Inner Mongolia akan dipelihara secara lokal.  Dua pabrik di Jiangsu dan Zhucheng akan membutuhkan 400.000 ekor sapi setiap tahun.  Banyak pabrik-pabrik pengolahan daging sapi yang baru-baru ini dibangun dan diperbarui di kawasan pesisir China namun kini tidak beroperasi karena kekurangan sapi potong dan kenaikan harga sapi lokal yang terus menanjak setiap bulan, sehingga peluang untuk memulai impor sapi hidup dari Australia semakin terbuka.  Satu-satunya yang dibutuhkan adalah bahwa Pemerintah China memodifikasi peraturan kesehatan mereka untuk menghapus hambatan yang mencegah proses impor menjadi komersial, yaitu: Apa manfaatnya bagi China atau apa sebenarnya yang mereka lindungi dengan bersikeras bahwa semua sapi yang didatangkan dengan kapal impor harus dipotong dalam tempo 14 hari?  Ini hanya menjadi penghalang terhadap perdagangan dan bukanlah langkah bio-sekuriti yang masuk akal.  Yang menjadi persoalan dalam mencoba memprediksi kapan sikap Pemerintah China akan berubah, adalah bahwa perubahan protokol tersebut lebih merupakan keputusan politis daripada keputusan komersial atau ilmiah.  Para petani akan membentuk kelompok lobi untuk mendorong agar jumlah impor sapi potong hidup ditekan seminim mungkin, sementara konsumen akan mengeluhkan harga daging sapi yang menanjak tajam.  Jika China dapat melakukan kesepakatan dengan pemerintah Myanmar untuk memasok setengah juta ekor sapi di perbatasan setiap tahun, maka hal ini mungkin akan menunda pertimbangan untuk membuka gerbang perdagangan ke Australia.  Sementara itu, semakin banyak pengiriman “uji-coba” dari Australia yang terus dilakukan ke China.

Foto dari internet: Tahun Baru China: 16 Februari 2018, Tahun Anjing.

 

Angka-angka pada tabel ini dikonversi ke AUD$ dari kurs masing-masing negara yang berubah setiap harinya, sehingga harga aktualnya sedikit berbeda oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang terus berubah. Harga dalam AUD$ yang disajikan di bawah ini hendaknya dilihat sebagai sebuah tren, bukannya harga persis masing-masingnya. Bila memungkinkan, daging potong yang digunakan untuk penentuan harga di pasar tradisional dan di supermarket adalah bagian knuckle/round  atau yang biasa disebut daging kelapa.

One thought on “Januari Laporan Pasar: Industri Daging Sapi Asia Tenggara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s