Februari Laporan Pasar: Industri Daging Sapi Asia Tenggara

Edisi ke-51: Februari 2018

Poin Utama 

  • Pedagang perantara mengambil alih semua margin rantai pasokan di Indonesia, tetapi tidak memperhitungkan penurunan biaya pasokan yang signifikan untuk konsumen lokal
  • Semua bukti menunjukkan bahwa persediaan sapi potong di China mengalami penurunan yang serius

 

Indonesia: Sapi potong steer AUD $3,55/kg bobot hidup (Rp 10.700 = AUD $1)

Harga masih statis sejak bulan lalu, dengan sedikit lebih banyak kredit yang ditawarkan agar dapat menjual sapi tanpa harus menurunkan harga lebih jauh lagi. Rp37.000 masih menjadi harga diskon terendah yang dilaporkan sampai saat ini, jadi  saya tetap memakai patokan harga Rp38.000 sebagai indikator harga untuk bulan Februari. Dolar Australia yang bersikeras tetap tinggi juga tidak membantu, sementara harga sapi bakalan (feeder) di kawasan utara bertahan pada AUD $3,20 untuk saat ini. Para importir sangat berharap bahwa akan ada penurunan harga di bulan Maret/April, saat mustering (pengumpulan sapi untuk panen) dimulai, namun hujan yang turun baru-baru ini tampaknya cenderung membatasi penurunan harga ke tingkat yang relatif kecil.

Banyak feedlot menahan sejumlah besar sapi yang terlampau gemuk karena lambatnya penjualan, dan hal ini terus menjadi tekanan untuk menurunkan harga sapi potong di bulan Maret.

Jumlah feedlot terus menyusut meskipun jumlahnya masih tetap banyak, jauh melampaui kebutuhan pasar sehingga banyak importir berencana untuk terus mengurangi persediaan mereka dengan cara mengurangi impor di masa depan. Jika daging kerbau India mengambil alih sekitar separuh pangsa pasar, maka logisnya persediaan sapi hidup harus menemukan titik keseimbangan yang baru. Dengan rata-rata kasar impor sapi hidup mendekati 600.000 ekor per tahun selama satu dekade terakhir, pergerakan ini cenderung berada di tingkat yang baru yaitu sekitar 300.000 ekor atau sedikit di bawahnya, tergantung seberapa jauh daging kerbau India dan produk beku lainnya menembus pasar. Saya membuat catatan yang menarik, yaitu prediksi ABARES (Australian Bureau of Agricultural and Resource Economics and Sciences) dalam konferensi Outlook 2018 baru-baru ini di Canberra, bahwa ekspor sapi hidup dari Australia ke Indonesia akan bertumbuh dalam beberapa tahun ke depan.

“ABARES mengatakan bahwa permintaan impor di Indonesia kuat, didukung oleh pertumbuhan pendapatan, populasi dan urbanisasi, serta preferensi untuk diversifikasi pangan.  Terhambatnya pertumbuhan produksi daging sapi Indonesia juga mendukung permintaan terhadap sapi impor, karena harga yang kuat menjadi insentif bagi produsen lokal untuk mempertahankan tingkat turn-off yang tinggi, yang membatasi pertumbuhan kawanan sapi Indonesia.”

Komentar dari sisi permintaan di atas memang sangat tepat. Namun tampaknya mereka melupakan fakta tentang masuknya daging kerbau India dalam jumlah yang sangat besar, yang menangkap 50% pangsa pasar impor (sapi hidup dan daging sapi).  Kehilangan pangsa pasar yang sangat besar ini adalah realitas yang sangat tidak menyenangkan bagi para eksportir Australia. Jadi, dari mana asalnya prediksi bahwa ekspor akan tumbuh dengan pesat, masih menjadi misteri. Dari sisi kepentingan para calon produsen Australia, saya berharap bahwa prediksi ini benar.

Pada bulan Februari lalu, Bulog mengumumkan bahwa Kementerian Perdagangan sudah mengeluarkan izin impor bagi 100.000 ton daging kerbau kerbau India untuk tahun 2018. Angka resmi yang saya dapatkan menunjukkan bahwa hanya sekitar 36.000 ton yang benar-benar dikonsumsi sepanjang tahun 2017 (sementara izin tahun 2017 berlaku untuk impor sebanyak 55.000 ton).  Logika pemerintah adalah bahwa tingginya volume produk India ini akan membantu menekan harga daging sapi di Indonesia. Jika kemampuan konsumsi di Indonesia kurang dari 40.000 ton pada tahun 2017, saya penasaran untuk mengetahui faktor apa yang kiranya mampu menaikkan tingkat konsumsi ini menjadi lebih dari dua kali lipat di tahun 2018. Satu hal yang tidak dilakukan produk India adalah menurunkan harga eceran karena sebagian besar produk masuk ke sektor makanan olahan dan pelayanan makanan kelas bawah, dengan hasil produk yang dijual pada harga eceran yang sama seperti sebelum masuknya daging kerbau India. Semua margin sudah ditangkap oleh pedagang dan pengusaha pengolahan daging, sehingga tidak ada yang tersisa untuk konsumen. Harga sapi potong hidup sudah turun dari Rp42.500 per kg bobot hidup di bulan September 2016 (saat masuknya daging kerbau India) menjadi Rp38.000 saat ini, atau turun sekitar 10,5% akibat berkurangnya permintaan oleh penjual daging. Daging kelapa (knuckle) di pasar tradisional dijual seharga Rp135.000 pada bulan September 2016 dan harga itu sangat mirip dengan yang ditawarkan sekarang. Ini artinya, secara efektif tidak ada penurunan harga terhadap konsumen, karena para penjual daging sudah memperoleh margin tambahan. Pedagang dan pengecer mendapatkan emas, sementara kebijakan pemerintah dan konsumen tidak mendapatkan apa-apa.

Bali sudah mulai pulih dari anjloknya kunjungan wisatawan yang terkait dengan pembatalan penerbangan akibat letusan Gunung Agung. Sebulan ini, Gunung Agung kembali ‘sopan’ sehingga jumlah wisatawan mulai meningkat. Semoga Gunung Agung akan tetap tertidur pulas untuk waktu yang lama, agar setiap orang, terutama yang tinggal di dekatnya bisa kembali menjalani kehidupan normal mereka.

Pangkalan Bun adalah kota kecil (dengan sekitar 200.000 penduduk) di pantai barat daya Kalimantan. Minggu lalu saya berkunjung ke sana dan pergi ke pasar tradisional terbesar di sana, untuk melihat bisnis daging sapi di tempat yang jauh dari kota-kota besar.

Pada dasarnya, bisnis berjalan seperti biasa, sama halnya dengan tempat-tempat lain di Indonesia. Daging kelapa atau knuckle dijual dengan harga antara Rp 120- 130.000 per kg. Para penjual daging yang saya ajak berbincang menjelaskan bahwa setiap  harinya, sekitar 10-12 ekor sapi dipotong secara lokal. Sapi potong tersebut terutama didatangkan dari Jawa Timur dengan kapal kecil dan kapal feri dari Surabaya dan Madura. Astra, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar, memiliki proyek peternakan sapi di kawasan ini dan mereka juga memasok sebagian sapi ke pasar setempat. Ibu dalam foto di bawah ini menawarkan produk daging sapi dalam beragam bentuk di kiosnya, termasuk bakso sapi buatan sendiri (bagian tengah atas, ditaruh dalam piring berlapis aluminium foil). Ia membuat bakso menggunakan alat pembuat bakso, yang tersedia di hampir semua pasar besar di Indonesia.

Cerita lengkap tentang pembuatan bakso, disini.

Foto: daging sapi, tulang, kaki, kulit, babat, hati, paru-paru, buntut dan bakso buatan sendiri.

Foto: mesin penggiling daging bakso menggunakan tenaga diesel. Pertama, operatornya akan memotong daging ayam untuk ditempatkan dalam wadah pencampur/penggilingan yang lebih besar, dimana daging dan bahan-bahan lain akan dicampur menjadi adonan yang kental. Bahan utama selain daging adalah tepung tapioka dan berbagai macam bumbu serta rempah-rempah. Ember pada gambar di atas berisi balok es yang akan dicampurkan ke dalam adonan, untuk mencegah agar proses penggilingan tidak terlalu panas, dan juga untuk melembabkan bakso.

 

Vietnam:  Sapi potong steer, AUD$ 3,79/kg (VND17.700 = AUD$ 1)

Tidak ada perubahan yang signifikan terhadap harga sapi potong, dan D67.000 masih menjadi kisaran tengah untuk harga sapi steer yang gemuk di Ho Chi Minh City. Harga sapi jantan di kawasan selatan bisa mencapai hingga D72.000 sementara di bagian utara harganya lebih tinggi 1000 Dong per kg untuk semua kategori, kecuali sapi dara gemuk yang dijual seharga D64.000, baik di pasar kawasan utara maupun selatan. Kapasitas feedlot masih berkisar di sekitar 80%.

Harga daging di pasar tradisional dan super market tetap stabil seperti sebelumnya. Yang menarik adalah harga untuk sebagian besar kategori stok dan produk daging tetap sama seperti harga di bulan-bulan sebelumnya, meskipun festival liburan utama, Tet, sudah berlangsung pada pertengahan bulan ini. Jadi tidak ada jaminan bahwa volume impor akan terjaga selama sisa waktu tahun di 2018.

 

Thailand: Sapi potong steer AUD$ 3,97/kg (Baht 24.7 = AUD $1)

Pasar sapi potong tampaknya melemah selama bulan Februari dengan indikator harga sapi potong steer sedikit merosot dari 100 Baht menjadi 98 Baht. Menurut pendapat saya, hal ini karena Pemerintah Thailand secara agresif melakukan pengujian Beta Agonist terhadap sapi potong, dan hasilnya banyak sapi yang dilarang untuk ekspor. Sapi-sapi ini kemudian dialihkan kembali ke pasar domestik sehingga menciptakan kelebihan pasokan.

 

Malaysia: Sapi potong steer,  AUD $4,06 per/kg (RM3.07 = AUD $1)

Kenaikan harga yang jelas terlihat ini, murni karena menguatnya Ringgit secara mengejutkan. Jumlah sapi potong di Malaysia sangat rendah sehingga sulit menemukan penawaran. Jadi tarif yang saya gunakan merupakan indikator umum yang terbaik, dengan harga sapi potong kemungkinan sangat bervariasi di berbagai daerah di seluruh negeri.

 

Filipina:  Sapi potong, AUD $3,32/kg (Peso 40,7 = AUD $1)

Harga cukup stabil di seluruh negara. Para petani terus diberkati dengan musim yang cocok untuk pertanian, tetapi musim tersebut berdampak terhadap industri pariwisata terutama akibat badai yang merusak dan curah hujan yang lebih tinggi daripada biasanya, juga banjir dan lain-lain. Kenaikan harga bahan bakar juga memberi tekanan baru pada aspek keuangan untuk beberapa sektor industri. Namun, perekonomian masih terus bergerak ke arah yang positif.

 

China: Sapi potong, AUD $5,04/kg  (RMB 4,96 = AUD $1)

Harga sapi potong masih bertahan kokoh di dua kota utama. Harga sapi hidup di Beijing Y25 dan harga di Shanghai Y26 per kg. Hanya 12 bulan yang lalu, harga sapi potong steer di Shanghai adalah AUD $3,11. Jika dihitung dengan kurs nilai tukar di Shanghai saat ini, maka harga Y26 setara dengan AUD $5,24. Meskipun jika kenaikan harga ini dikaitkan dengan pergerakan kurs mata uang, tetap saja kenaikan yang hampir 70% merupakan kenaikan yang luar biasa. Sudah diketahui secara umum bahwa ada banyak tempat pemotongan hewan di China yang tidak dimanfaatkan atau tidak beroperasi sama sekali karena kekurangan stok. Juga tidak dapat dibantah bahwa perekonomian China terus bertumbuh dengan meningkatnya permintaan, sebagai konsekuensi langsung karena sekarang lebih banyak orang China yang mampu membeli daging sapi. Dengan penawaran dan permintaan yang mendorong harga sapi hidup lokal menjadi semakin tinggi, pemerintah China pastilah mendapat tekanan besar untuk memodifikasi protokol kesehatan mereka dan membuka pasar untuk impor sapi hidup yang layak secara komersial.

Skandal dalam industri daging di China tidak berhenti meskipun ada tindakan tegas terhadap penjualan daging dari babi mati atau babi yang berpenyakit. Pihak berwenang di sektor penghasil utama daging di Provinsi Shandong di China Timur telah menutup 26 fasilitas pemotongan hewan, dan berbagai media terus melaporkan kasus penipuan serupa dari wilayah-wilayah lain di China. Istilah “babi sakit dan babi mati” menyebar luas tak terkendali melalui berbagai media dan dalam peraturan pemerintah. Daftar perilaku buruk seperti ini seakan tiada habis-habisnya, berlanjut sampai ke obat-obatan palsu, zat aditif beracun, kontaminasi antibiotik, penggantian daging (babi murah menggantikan daging domba), penjagalan hewan di halaman belakang dan pelacakan yang tidak efektif, semuanya menjadi sorotan. Pemerintah daerah menanggapi skandal “babi mati dan babi sakit” dengan mengembangkan fasilitas pembuangan di lokasi yang strategis yang dilengkapi dengan kontainer berpendingin untuk menampung hewan-hewan mati yang kemudian dibawa ke krematorium. Hasil dari semua praktik mengerikan yang terus-menerus menjadi sorotan publik ini adalah, konsumen sama sekali tidak mempercayai berbagai produk makanan yang ada di China saat ini.

Tidak mengherankan jika penjualan daging sapi Australia yang sehat dan terpercaya akhirnya menjadi pemenang besar pada perayaan Tahun Baru Imlek, saat dimana memberi hadiah dan menikmati makanan istimewa bersama keluarga merupakan tradisi yang amat penting. Di bawah ini adalah foto paket-paket hadiah menawan yang ditawarkan di China bulan lalu, yang semuanya sangat jelas menyatakan bahwa produknya 100% diimpor dari Australia. Harganya berkisar antara 400 Yuan sampai 2.500 Yuan atau AUD $80 sampai $500, untuk 2 sampai 5 kg per kemasan.

Foto di atas: Daging sapinya tak diragukan, pasti sangat lezat. Tetapi bahasa Inggris pada kemasannya harus diperbaiki. “Australia dengan langit biru BiYe ??, pasturanya yang kaya sedang ditugaskan untuk hamil …lezat di mulut.

 

Meksiko: Sapi bakalan @ AUD 78,5 sen ke USD

Sapi Zebu dari peternak sapi di Meksiko Selatan USD $2,66 = AUD $3,39 per kg bobot hidup.

Euro/Zebu X USD $2,80 di peternakan – AUD $3,57 per kg

Euro USD $3 = AUD $3,82 per kg.

Seperti yang bisa Anda lihat, sapi-sapi ini bahkan lebih mahal daripada sapi di Australia, dan ini adalah harga di peternakan tanpa protokol ekspor dan perjalanan melintasi samudera Pasifik. Untuk saat ini, coret Meksiko dari daftar pemasok potensial untuk Asia Tenggara.

 

Angka-angka pada tabel ini dikonversi ke AUD$ dari kurs masing-masing negara yang berubah setiap harinya, sehingga harga aktualnya sedikit berbeda oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang terus berubah. Harga dalam AUD$ yang disajikan di bawah ini hendaknya dilihat sebagai sebuah tren, bukannya harga persis masing-masingnya. Bila memungkinkan, daging potong yang digunakan untuk penentuan harga di pasar tradisional dan di supermarket adalah bagian knuckle/round  atau yang biasa disebut daging kelapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s